Showing posts with label MODEL PEMBELAJARAN. Show all posts
Showing posts with label MODEL PEMBELAJARAN. Show all posts

Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

Secara bahasa, discovery leaning memiliki arti penemuan. Model pembelajaran ini lebih menekankan pentingnya memahami struktur atau gagasan penting suatu disiplin ilmu melalui keterlibatan murid di dalamnya.

Proses pembelajaran discovery learning tidak mengharuskan guru menyajikan materi pelajaran dalam bentuk utuh dari awal sampai akhir. Namun, guru disarankan untuk menyajikan sebagian materi pembelajaran saja, kemudian sisanya dibebankan kepada murid untuk menganalisis sendiri materinya.

 

Menurut Sari, dkk. dalam (Dari & Ahmad, 2020) model Discovery Learning adalah kerangka pembelajaran konseptual dengan prinsip materi dan bahan ajar yang harus dicapai oleh peserta didik tidak disampaikan secara utuh melainkan siswa dituntut untuk dapat mengidentifikasi apa yang ingin diketahui, mencari informasi dan materi secara mandiri, serta mengorganisasikan apa yang telah diketahui menjadi suatu bentuk akhir.

 

Juhri (2020) Discovery Learning adalah model pembelajaran yang dapat memecahkan masalah yang akan bermanfaat bagi anak didik dalam menghadapi kehidupan di masa mendatang.

 

Rozhana dan Harnanik dalam (Dari & Ahmad, 2020) mengemukakan bahwa model discovery learning adalah model pembelajaran yang mengedepankan pengembangan berpikir peserta didik dalam memecahkan suatu masalah dan juga menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari ide-ide baru dalam kegiatan pembelajaran.

 

Jadi, model pembelajaran Discovery Learning pada intinya adalah model pembelajaran yang menuntut siswa untuk dapat berpikir kritis dalam memecahkan masalah, berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran, mandiri dalam mencari atau menemukan materi, dan dapat mengembangkan kretivitas yang dimiliki sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator pada kegiatan pembelajaran. Dalam penerapan model Discovery Learning, guru hanya sebagai fasilitator bukan bersifat teacher centered dan siswalah yang berperan

B. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

Tiga ciri utama belajar dengan Model pembelajaran Discovery Based Learning yaitu:

1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan;

2. Berpusat pada peserta didik;

3. Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada.

 

Dalam aplikasi model pembelajaran Discovery Based Learning menempatkan guru sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara aktif, membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar peserta didik sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti inilah yang ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented (Sardiman, 2005).

C. Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

Adapun langkah-langkah model Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning adalah sebagai berikut.

1. Stimulus (Pemberian rangsangan)

Langkah pertama dalam pelaksanaan pembelajaran discovery learning adalah stimulus. Pada tahapan ini guru akan memberikan beberapa pertanyaan untuk memancing rasa penasaran dan ketertarikan peserta didik. Selain itu, guru memberikan anjuran untuk membaca buku dan kegiatan belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

2. Identifikasi masalah

Tahapan kedua adalah identifikasi masalah di mana guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah yang menjadi bahan pembelajaran. Selanjutnya peserta didik membuat hipotesis atau pertanyaan masalah yang sifatnya sementara pada awal pembelajaran.

3. Pengumpulan data

Hipotesis telah tersusun, maka peserta didik bisa mulai mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan untuk menjawab hipotesis.

4. Pengolahan Data

Data dan informasi telah terkumpul, maka peserta selanjutnya peserta didik mulai menganalisis dan mengolah data.

5. Pembuktian

Hasil dari pengolahan data kemudian dilakukan pengecekan dan pemeriksaan secara cermat. Lalu peserta didik bisa menghubungkan dengan hipotesis awal. Apakah hipotesis telah sesuai dengan data temuan? Atau sebaliknya, ditemukan jawaban lain.

6. Generalisasi (Menarik Kesimpulan)

Tahapan terakhir adalah generalisasi. Peserta didik menarik kesimpulan dan bisa dijadikan prinsip umum pada semua kejadian atau masalah yang sama.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Penemuan Atau Discovery Based Learning

Kelebihan Discovery Based Learning

1.     Mendorong partisipasi aktif dan motivasi peserta

2.     Pembelajaran sesuai dengan kapasitas dan kecepatan peserta didik

3.     Mengedepankan kemandirian dan kreativitas peserta

4.     Menekankan pembelajaran pada proses, bukan hasil

Kekurangan Discovery Based Learning

1. Discovery learning membutuhkan alat praktik yang sering kali tidak tersedia. Keterbatasan alat praktik membuat pelaksanaan discovery learning terhambat.

2. Guru perlu dipersiapkan dengan baik dan mengantisipasi pertanyaan yang mungkin mereka terima, dan mampu memberikan jawaban atau pedoman yang benar.

3. Ada kritik yang menyebutkan bahwa proses dalam model discovery learning terlalu mementingkan proses pemahaman. Ada aspek lain yang kurang menjadi perhatian, yakni perkembangan sikap dan keterampilan siswa.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem based Learning (PBL)

Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

A. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan.

Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) mengemukakan bahwa pengertian dari model Problem Based Learning adalah: model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan.

Finkle and Torp (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) menyatakan bahwa: PBM merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang mengembangkan secara stimulan strategi pemecahan masalah dan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.

Dua definisi diatas mengandung arti bahwa PBL atau PBM merupakan suasana pembelajaran yang diarahkan oleh suatu permasalahan sehari-hari.

Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa: Model Problem Based Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memilki keterampilan dalam memecahkan masalah.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata sebagai sebuah konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana cara berfikir kritis dan mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah, serta tak terlupakan untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang penting dari materi ajar yang dibicarakan

B. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

Karakteristik Problem Based Learning PBL memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Belajar dimulai dengan satu masalah,

2. Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa,

3. Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu,

4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri,

5. Menggunakan kelompok kecil,

6. Menuntut siswa untuk mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja.

C. Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

Adapun langkah-langkah model pembelajarannya berbasis masalah adalah sebagai berikut.

1.     Menjelaskan orientasi permasalahan pada peserta didik

Pada tahap ini guru akan memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran, menjelaskan persyaratan penting yang harus disediakan dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah

2.     Mengorganisasi peserta didik dalam belajar

Pada tahap ini, guru mengorganisir tugas yang akan diberikan pada peserta didik, misalnya penentuan topik, prosedur tugas, dan sebagainya yang terkait dengan masalah.

3.     Memberikan bimbingan pada individu maupun kelompok

Guru membimbing peserta didik agar mereka bisa mendapatkan sumber atau referensi yang sesuai untuk permasalahan yang ditugaskan.

4.     Mengembangkan dan menyajikan hasil karya peserta didik

Pada tahap ini, peserta didik akan dibantu oleh guru dalam mempersiapkan hasil yang akan dilaporkan, misalnya laporan, dokumentasi, rekaman, serta teori pendukung lainnya.

5.     Melakukan analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

Guru meminta peserta didik untuk merefleksi dan mengevaluasi hasil yang diperoleh, baik dari sisi proses maupun metode.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

Kelebihan problem based learning.

1. Peserta didik dilatih untuk selalu berpikir kritis dan terampil dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

2. Bisa memicu peningkatan aktivitas peserta didik di kelas.

3. Peserta didik terbiasa untuk belajar dari sumber yang relevan.

4. Kegiatan pembelajaran berjalan lebih kondusif dan efektif karena peserta didiknya dituntut untuk aktif.

Kekurangan problem based learning

1. Tidak semua materi pembelajaran bisa menerapkan model ini.

2. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan materi pembelajaran lebih lama.

3. Bagi peserta didik yang belum terbiasa menganalisis suatu permasalahan, biasanya enggan untuk mengerjakannya.

4. Jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terlalu banyak, guru akan kesulitan untuk mengondisikan penugasan.

E. Contoh Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Atau Problem Based Learning (PBL)

Berikut ini contoh penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

Mata Pelajaran   : Pendidikan Agama Islam

Materi                : Akhlak mulia

Masalah            : "Bagaimana kita sebagai pelajar SMA dapat menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

1.     Menjelaskan orientasi permasalahan pada peserta didik

Pada tahap ini guru memperkenalkan masalah yang relevan dengan materi, yaitu bagaimana menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

2.     Mengorganisasi peserta didik dalam belajar

Pada tahap ini, guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama menyelesaikan masalah serta mengorganisir tugas yang akan diberikan pada peserta didik, misalnya penentuan topik, prosedur tugas, dan sebagainya yang terkait dengan masalah aklak mulia.

3.     Memberikan bimbingan pada individu maupun kelompok

Guru membimbing peserta didik agar mereka bisa mendapatkan sumber atau referensi yang relevan, seperti Al Quran, Hadits, dan buku tentang akhlak mulia. Serta mengembangkan solusi yang tepat untuk menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

4.     Mengembangkan dan menyajikan hasil karya peserta didik

Pada tahap ini, peserta didik akan dibantu oleh guru dalam mempersiapkan hasil yang akan dilaporkan, misalnya laporan, dokumentasi, rekaman, serta teori pendukung lainnya terkait akhlak mulia serta solusi yang tepat untuk menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari

5.     Melakukan analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah

Guru meminta peserta didik untuk merefleksi dan mengevaluasi hasil yang diperoleh, baik dari sisi proses maupun metode.

Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

A. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

NHT (Numbered Heads Together) atau banyak disebut pula dengan penomoran, berpikir bersama, atau kepala bernomor merupakan salah satu inovasi dalam pembelajaran kooperatif. NHT (Numbered Head Together) pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagan tahun 1993 untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut

Menurut Ahmad Zuhdi (2010:64) NHT (Numbered Heads Together) adalah suatu model pembelajaran kooperatif dimana siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok, lalu secara acak guru memanggil nomor dari siswa.

NHT (Number Heads Together) menurut Trianto (2007: 62) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. NHT (Numbered Heads Together) sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khas dari NHT adalah guru memberi nomor dan hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya. Dalam menujuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok. Cara tersebut akan menjamin keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.

Model pembelajaran NHT (Numbered Heads Together) ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan, sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran

B. Karakteristik Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

1. Kelompok heterogen

2. Setiap anggota kelompok memiliki nomor kepala yang berbeda-beda

3. Berpikir bersama (Heads Together)

4. Setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap kelompok

5. Siswa aktif dalam proses pembelajaran

6. Siswa terlatih untuk mengungkapkan hasil kerjanya

7. Siswa terlatih untuk saling berbagi informasi, mendengarkan dengan cermat, dan berbicara dengan penuh perhitungan

C. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

Tahapan dalam pembelajan NHT(Numbered Heads Together) menurut Trianto (2007 : 62):

1. Pembentukan kelompok, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil heterogen yang terdiri dari 4-5 siswa

2. Penomoran,  ini adalah tahap utama di dalam NHT, dalam tahap ini setiap siswa dalam kelompok diberikan nomor berbeda-beda, sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok tersebut.

3. Pengajuan Pertanyaan, Langkah berikutnya adalah pengajuan pertanyaan, guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan dapat diambil dari materi pelajaran tertentu yang memang sedang di pelajari, dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula.

4. Berpikir Bersama, Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam kelompoknya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing-masing pertanyaan.

5. Pemberian Jawaban, Langkah terakhir yaitu guru menyebut salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

Adapun kelebihan dan kelemahan NHT (Numbered Heads Together) menurut Ahmad Zuhdi (2010:65) adalah:

Kelebihan model pembelajaran NHT

1. Setiap siswa menjadi siap semua,

2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh,

3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

4. Meningkatkan keaktifan siswa

5. Mengembangkan keterampilan sosial siswa

Kekurangan Model Pembelajaran NHT

1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.

2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

3. Memerlukan waktu yang cukup untuk diskusi dan presentasi

4. Dapat membuat guru kesulitan dalam mengelolah kelas, terutama jika siswa tidak terbiasa dengan model pembelajaran ini.

5. Kesulitan dalam mengukur kemampuan individu karena penilaian fokus pada nilai kelompok

E. Contoh Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe NHT (Number Head Together)

Berikut contoh penerapan model pembelajaran cooperative learning Tipe NHT (Number Head Together) dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan jumlah siswa 30 orang

Materi: Sumber Hukum Islam

1.     Pembentukan kelompok: siswa dibagi menjadi  6 kelompok dengan setiap kelompok beranggotakan 5 orang dengan kemampuan yang heterogen.

2.     Penomoran: setiap siswa dalam kelompok diberikan nomor mulai 1 sampai 5 sesuai dengan jumlah anggotanya.

3.     Pengajuan Pertanyaan: guru mengajukan pertanyaan tentang sumber hukum islam, 

pertanyaan 1: apa saja sumber hukum islam. 

pertanyaan 2: bagaimana kedudukan Al Qur'an sebagai sumber hukum islam? 

pertanyaan 3: apa pengertian hadits sebagai sumber hukum islam?

4.     Berpikir Bersama: siswa dalam kelompok berdiskusi untuk menemukan jawaban atau solusi.

5. Pemberian Jawaban: guru memanggil nomor secara acak, siswa yang disebut nomornya mengangkat tangan, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harus menjawan pertanyaan tersebut,  selanjutnya siswa dari kelompok yang terpilih menjawab pertanyaan, sementara itu kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.

Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

A. Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Model pembelajaran TGT ini memiliki pengertian dan sudut pandang masing-masing dari setiap para ahli. Berikut ini beberapa pengertian model pembelajaran TGT:

Susesno (2008; 63) menyatakan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), merupakan suatu pendekatan kerja antarkelompok dengan pengembangan kerja sama antar personal. Dalam pembelajaran ini terdapat penggunaann teknik permainan. Dalam permainan ini mengandung persaingan menurut aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam permainan ini diharapkan tiap-tiap kelompok dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk bersaing agar memperoleh suatu kemenangan.

 

Trianto (2009: 83) menyebutkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), atau pertandingan permainan tim dikembangkan secara asli oleh David De Vries dan Keath Edward. Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh nilai tambahan poin untuk skor tim mereka.

 

Sedangkan menurut Slavin (2008: 163), TGT menggunakan turnamen akademik dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, di mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara.

 

Setelah mempelajari beberapa pengertian mengenai TGT dapat diketahui bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan model pembelajaran model yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang bersifat heterogen baik dari segi kemapuan, jenis kelamin, ras. Setiap siswa berperan aktif dalam pembelajaran yang dikemas dalam bentuk turnamen akademik untuk memperoleh skor.

B. Karakteristik Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Menurut Slavin (2010: 166-7), terdapat lima komponen yang menjadi karakteristik dalam TGT, yakni Presentasi di kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim.

1. Presentasi kelas, digunakan guru untuk menerangkan materi pelajaran melalui pengajaran langsung atau diskusi yang dipimpin oleh guru. Presentasi kelas juga dimanfaatkan guru untuk menyampaikan teknik pembelajaran yang akan digunakan. Dengan cara ini, para siswa akan menyadari bahwa mereka harus benar-benar memberi perhatian penuh selama presentasi kelas, karena sangat membantu mereka dalam menjawab soal-soal pada saat kompetisi.

2. Pembelajaran Berbasis Kelompok. Model pembelajaran TGT menggunakan pembelajaran berbasis kelompok, dimana siswa dituntut untuk bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.

3. Kompetisi. Model pembelajaran TGT menggunakan kompetisi antara kelompok untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.

4. Game (Permainan), Game atau permainan terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan siswa yang diperoleh.

5. Tournamen (Turnamen). Model pembelajaran TGT menggunakan turnamen sebagai bentuk kompetisi antara kelompok, dimana siswa bersaing untuk memenangkan turnamen yang diselenggarakan.

6. Rekognisi Tim (Penghargaan). Model pembelajaran TGT memberikan penghargaan kepada kelompok yang menang dalam turnamen, seperti piagam atau hadiah.

7. Pengawasan Guru. Model pembelajaran TGT memerlukan pengawasan guru yang efektif untuk memastikan bahwa turnamen berjalan dengan adil dan lancar.

C. Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT), yaitu sebagai berikut.

1. Pembentukan Tim, guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan kemampuan yang beragam.

2. Pemberian Materi, Guru menyampaikan materi pelajaran dengan cara presentasi di depan kelas. Presentasi mencakup pembukaan, pengembangan, dan pengarahan praktis tiap komponen dari keseluruhan materi pelajaran.

3. Belajar Tim, Para siswa mempelajari lembar-lembar kegiatan dalam tim mereka. Selama belajar dalam tim, tugas para anggota tim yaitu menguasai materi yang telah disampaikan guru dalam presentasi kelas dan membantu anggota lainnya untuk menguasai materi tersebut.

4. Turnamen, Siswa dari setiap kelompok bersaing dengan siswa dari kelompok lain dalam turnamen yang terdiri dari beberapa babak yang sudah diatur oleh guru.

5. Rekognisi Tim, Setelah turnamen selesai, guru menjumlahkan perolehan skor masing-masing tim. Guru mempersiapkan sertifikat atau bentuk penghargaan lain untuk diberikan kepada tim yang memenuhi kriteria tertentu.

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Kelebihan model pembelajaran TGT

Beberapa kelebihan model pembelajaran TGT antara lain:

1. Model pembelajaran TGT dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan membuat mereka bersemangat untuk memenangkan turnamen.

2. Model pembelajaran TGT dapat meningkatkan kerjasama antara siswa dalam kelompok.

3. Model pembelajaran TGT dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berkompetisi secara sehat.

4. Meskipun waktu yang diberikan sedikit, namun penguasaan materi bisa lebih mendalam.

5. Mendidik siswa untuk berlatih lebih bersosialisasi dengan orang lain.

6. Meningkatkan kebaikan budi dan kepekaan untuk lebih bertoleransi satu sama lain.

Kekurangan Model Pembelajaran TGT

Berikut ini adalah beberapa kekurangan model pembelajaran TGT bagi guru dan siswa:

1. Memerlukan waktu yang lama untuk proses pembelajaran dan turnamen

2. Menimbulkan stres pada siswa yang tidak terbiasa dengan kompetisi.

3. Memerlukan pengawasan yang ketat dari guru untuk memastikan bahwa turnamen berjalan dengan adil dan lancar.

E. Contoh Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT (Team Game Tournament)

Berikut contoh penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe TGT dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentang Sumber Hukum Islam:

Materi: Sumber Hukum Islam (Al-Qur'an, Hadits, Ijma', dan Qiyas)

Langkah-langkah:

1. Pembentukan Tim: Guru membagi siswa menjadi kelompok kecil beranggotakn 4-5 orang dengan kemampuan beragam.

2. Pemberian Materi: Guru memberikan materi tentang sumber hukum islam, yaitu Al'Quran, Hadits, Ijma', dan Qiyas.

3. Belajar Tim: Siswa bekerjasama dalam kelompok untuk memahami materi dan mempersiapkan diri untuk ikut turnamen.

4. Turnamen: Siswa dari setiap kelompok bersaing dengan siswa dari kelompok lain dalam turnamen yang terdiri dari beberapa babak, seperti:

- Babak I: mengidentifikasi sumber hukum islam dari contoh kasus yang diberikan.

- Babak II: menjelaskan definisi dan contoh penerapan sumber hukum islam.

- Babak III: membuat contoh kasus yang terkait dengan sumber hukum islam dan menyelesaikannya dengan menggunakan sumber hukum islam yang relevan.

- Babak IV: menjelaskan bagaimana Al-Qur'an dan Hadits saling melengkapi dalam menetapkan hukum islam.

- Babak V: Mendekripsikan  peran hadits sebagai sumber hukum islam

5. Rekognisi Tim: kelompok yang menang dalam turnamen diberikan penghargaan, seperti piagam atau hadiah.



Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Pengertian Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Model pembelajaran jigsaw adalah suatu variasi model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok, yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar, dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran ini dilaksanakan dengan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 siswa.

Dimuat secara heterogen, dimana setiap anggota menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya untuk bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota, sehingga mereka pun harus bekerjasama, saling ketergantungan yang positif, dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari, serta bisa menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

Pengertian Model Jigsaw Menurut Para Ahli

Menurut Lie (2008), model pembelajaran jigsaw merupakan sistem pelajaran kooperatif yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang terstruktur.

Menurut Slavin (2008), model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil, untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pelajaran.

Menurut Johnson dan Johnson dalam Isjoni (2009), model pembelajaran jigsaw adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Menurut Sudrajat (2008), model pembelajaran jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok, yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar, dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya.

Berdasarkan dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran jigsaw adalah proses belajar siswa secara kelompok, dan saling bekerja sama dalam mempelajari suatu materi yang di berikan, serta materi yang sudah dikuasai harus disampaikan kepada anggota kelompok lain.

Karakteristik Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Menurut Sanjaya (2007:242-243), karakteristik model pembelajaran kooperatif jigsaw, meliputi:

1.     Pembelajaran secara berkelompok;

2.     Kooperatif manajemen meliputi; perencanaan, pelaksanaan, organisasi, dan kontrol;

3.     Kerja sama dalam kelompok belajar;

4.     Keterampilan dalam berinteraksi dalam berkomunikasi.

Sedangkan menurut Prastiyo, (2019:13) karakteristik model pembelajaran kooperatif jigsaw, yaitu:

1.     Tutor sejawat yang kompeten;

2.     Kelompok asal berperan sebagai media untuk saling mengajarkan keahliannya;

3. Kelompok ahli berperan dalam penguasaan materi. Jadi, karakteristik jigsaw adalah model belajar yang terdiri dari beberapa kelompok yang memiliki peran dalam penguasaan materi belajar guna mencapai tujuan pembelajaran

Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Langkah-langkah Model Pembelajaran Jigsaw sebagai berikut :

1. Pemilihan materi yang dapat dibagi menjadi beberapa segmen / bagian.

2. Guru membagi siswa menjadi beberapa beberapa kelompok-kelompok kecil sesuai dengan segmen / bagian materi. Dalam metode jigsaw ini terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal adalah kelompok awal siswa terdiri dari beberapa anggota kelompok ahli yang dibentuk dengan memperhatikan keragaman dan latar belakang. Sedangkan kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok lain (kelompok asal) yang ditugaskan untuk mendalami sub topik tertentu untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

3. Setiap kelompok mendapat tugas membaca dan memahami materi atau sub topik yang berbeda-beda.

4. Setiap kelompok asal mengirimkan anggotanya ke kelompok lain atau kelompok ahli. Di dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama.Kemudian setiap anggota merencanakan bagaimana mengajarkan sub topik yang menjadi bagian anggota kelompoknya semula (kelompok asal).

5. Setelah pembahasan selesai para anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya pengetahuan apa yang telah mereka dapatkan saat pertemuan di kelompok ahli.

6. Selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.

7. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.

8. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya. Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli oleh Arends seperti yang dikutip oleh Novi Emildadiany (2008) dapat digambarkan sebagai berikut :

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe JIGSAW

Kelebihan model pembelajaran jigsaw

Roy Killen dalam Hamdayama (2014: 89-90) menyatakan bahwa, model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional. Di antaranya sebagai berikut.

1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang ditugaskan untuk dapat menjelaskan materi kepada rekan-rekannya.

2. Pemerataan penguasaan materi bisa dicapai dalam waktu yang lebih cepat.

3. Metode pembelajaran jigsaw dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

Kekurangan model pembelajaran jigsaw

Namun, terdapat pula beberapa hal yang menjadi kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, yaitu:

1. Prinsip utama pembelajaran ini adalah peer teaching, yaitu pembelajaran oleh teman sendiri, ini akan menjadi kendala karena perbedaan persepsi dalam memahami konsep yang akan didiskusikan bersama siswa lain.

2. Apabila terdapat peserta didik tidak memiliki rasa percaya diri dalam berdiskusi  menyampaikan materi pada teman.

3. Butuh waktu yang cukup lama dan persiapan yang matang sebelum akhirnya model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik di kelas.

4. Siswa yang biasa aktif di kelas akan lebih mendominasi diskusi dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.

5. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai ahli dalam kelompok.

6. Pembagian kelompok yang tidak heterogen, memungkinkan kelompok tersebut anggotanya lemah semua.

7. Siswa yang tidak terbiasa dalam berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran..

8. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.